Jumat, 16 Desember 2011 | 14:29
JAKARTA - Kasus perkosaan di dalam angkutan umum kini kembali menghantui masyarakat, setelah ada
seorang tukang sayur di kawasan Depok, Jawa Barat diperkosa dan dirampok saat menaiki mikrolet M26 Kampung Melayu-Bekasi.

Maraknya aksi perkosaan di dalam angkutan umum yang terjadi di sepanjang tahun 2011 ini ditengarai karena hukuman yang diberikan tidak menimbulkan efek jera. Pandangan ini dikemukakan Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), Azas Tigor Nainggolan, Jumat (16/12/2011), saat dijumpai di Mapolda Metro Jaya.
Tigor mengatakan, efek jera merupakan prinsip atas diterapkannya hukuman. "Ini masalah polisi. Kalau terus berulang, tandanya polisi gagal," tukas Azas.
Tigor menuturkan, pihak kepolisian harusnya bisa memetakan kasus perkosaan ini terjadi di mana dan kapan.
Sehingga seharusnya, polisi meningkatkan patroli di wilayah wilayah rawan yang telah dipetakan tadi.
Sehingga seharusnya, polisi meningkatkan patroli di wilayah wilayah rawan yang telah dipetakan tadi.
Menurut Tigor, keberadaan polisi membuat pelaku kejahatan akan berpikir dua kali dalam melancarkan aksinya. "Polisi harus bertindak, jangan razia dadakan yang sifatnya reaktif. Masyarakat itu takut kalau ada aparat, kalau nggak ada yah nggak takut," tutur Tigor.
Upaya penindakan secara hukum juga perlu dilakukan dengan tegas. Tigor bahkan meminta agar polisi menindak pemilik angkot yang membiarkan angkutan umumnya dipakai untuk aksi kriminal. "Kewenangan sopir dan pemilik angkot untuk pencegahan memang di Dinas Perhubungan. Tapi kalau kriminal menjadi wewenang polisi untuk berikan efek jera. Polisi bisa menindak operator karena membiarkan tindak pidana," paparnya.
Aksi perampokan disertai perkosaan mulai kembali terjadi. RS (40) dirampok dan diperkosa oleh empat orang pria saat menaiki Mikrolet M26 jurusan Kampung Melayu-Bekasi pada Rabu (14/12/2011) pukul 04.00 WIB.
Saat itu, RS hendak menuju Pasar Kemiri Muka, Depok, Jawa Barat dari rumahnya. Di dalam angkot, RS sempat ditodong dengan golok oleh seorang pria yang duduk di jok belakang. Setelah itu, RS mulai disetubuhi di dalam angkot yang masih melaju.
Tiga orang lain yang ada di dalam angkot justru menyemangati pelaku untuk memperkosa korban. Usai disetubuhi, komplotan itu lalu merampas uang Rp 500.000,- dan anting milik RS. Polisi kini masih memburu pelaku.
sumber : kompas
Tidak ada komentar :
Posting Komentar